Test Drive Toyota All New Alphard


Ada perasaan yang mengganjal saat mencoba unit baru Toyota Alphard 3.5Q Executive Lounge dari balik kemudi. Soalnya mobil ini hadir utamanya untuk memanjakan para penumpang.

Sejak kemunculan pertama Toyota Alphard di tahun 2008, mobil ini sukses merebut hati keluarga mapan di Indonesia. Bahkan hanya dengan sekadar naik-turun dari pintu kabin, Anda sudah otomatis dicap sebagai ‘orang berada’. Asumsi diatas tidak berlebihan. Kehadiran strata tertinggi Toyota Alphard 3.5Q terbaru semakin menegaskan status mobil ini sebagai MPV Premium. Tidak hanya desain eksterior yang mewah tapi juga kemegahan kabin. Kami lebih tertarik untuk menikmati bagian kabin terlebih dahulu. Sejak pintu geser terbuka, nuansa atraktif langsung terasa.

Dua jok tengah berlabel ottoman seat langsung menyambut.Tidak hanya berlapis kulit yang nyaman, jok ini juga dilengkapi berbagai pengaturan. Kami bisa leluasa mengatur posisi rebah punggung dan kaki bahkan hingga 180O. Dipayungi atap panoramic sunroof dan ambience, light model ‘U’ yang memanjang hingga jok paling belakang, membuat atmosfir kabin tersaji begitu nyaman. Tidak hanya itu, di jok tengah juga kami dimanjakan dengan fasilitas premium lain. Ada suguhan audio video dari monitor atap 9 inci yang disupport perangkat Blue-ray, sampai fitur wireless charger. Kenikmatan baris kedua ini, tidak bisa sepenuhnya dirasakan penumpang di baris ketiga. Akses yang diberikan lewat ottoman seat sempit dan tidak sepenuhnya mudah. Walau jok ottoman bisa digeser secara elektris, ia membutuhkan waktu agak lama dibanding mendorongnya secara manual.

Duduk di bangku baris ketiga juga cukup nyaman. Meski ruang untuk recline minim, namun ruang kaki dan kepala sudah tersaji begitu lapang. Oh ya, jok baris ketiga ini bisa dilipat rata dengan konfigurasi 50:50. Bahkan jika membutuhkan space yang lebih besar, ia bisa dilipat penuh ke samping untuk ruang kargo yang lebih besar.

Kembali ke tugas awal untuk mencoba impresi berkendara dari MPV jumbo berbobot nyaris 2 ton. Dengan tinggi mobil 1,8 meter, ruang kemudi dibuat tinggi dengan posisi setir agak ke bawah. Komposisi ini berhasil memberikan kami pandangan yang luas di depan. Begitu engine start ditekan, mesin Dual VVT-i berkapasitas 3.456 cc dengan konfigurasi V6 langsung menyalak. Ini adalah mesin yang sama dengan Alphard 3.5Q sebelumnya. Tenaganya besar mencapai 271 dk dengan torsi 340 Nm. Dengan torsi yang melimpah, tidak susah bagi kami untuk menggapai angka 160 km/jam sekalipun. Bahkan untuk sekadar mencapai 0-100 km/jam bisa dikunci hanya dalam waktu 8,5 detik saja. Fantastis! Hal lain yang kami rasakan ialah penyaluran tenaga ke roda depan.

Meski tidak menggunakan transmisi jenis CVT seperti varian di bawahnya yang bermesin 2.500 cc, transmisi otomatis 6 percepatan sequential terasa cukup responsif. Entakan tenaganya minim, malah kami masih bisa menikmati laju mobil layaknya mengendarai transmisi manual saat tuas di posisikan di S. Walau akselerasi mobil sedikit lambat di putaran bawah 1.000-1.500 rpm, Alphard 3.5Q tuntas membayar memasuki putaran menengah 2.500 rpm ke atas. Karakter tenaganya liar dan hanya bisa diredam saat kecepatan tinggi ketika melintasi tikungan. Kami sempat mencoba melibas tikungan di kecepatan 90 km/jam. Hasilnya sangat memuaskan. bantingan suspensi Alphard terbaru pantas diacungi jempol. Ia kini sangat nyaman karena menggunakan suspensi double wishbone di belakang. Penggunaan Eco mode, meski tanpa sistem start/stop seperti varian di bawahnya, masih cu kup baik untuk mendapatkan konsumsi BBM yang optimal.

Catatan konsumsi BBM di tol de ngan kecepatan rata-rata 90 km/jam bisa meraih 12,2 km/l. Sementara di rute dalam kota dengan kecepatan rata-rata 23 km/jam bisa meraih 8,6 km/l. Namun sekali lagi kami tegaskan, jika duduk di balik kemudi, kami dituntut untuk menjalankan dua fungsi sekaligus. Pertama sebagai pengendara, dan kedua melayani kebutuhan penumpang di kabin. Pengendara bisa melayani hampir semua kebutuhan penumpang di kabin. Mulai membukatutup pintu penumpang dan pintu bagasi, menghidupkan dan mengganti warna ambient light, sampai hal paling sepele seperti menghidupkan lampu baca penumpang sudah bisa dilakukan pengendara.