Liga Irit 2014 Toyota Etios Paling Irit


Sesuai dengan filosofi awal Liga Irit sendiri ialah suatu pengetesan spesial yang dikhususkan untuk menguji efisiensi penggunaan bahan bakar pada mobil-mobil yang diproduksi dalam setahun terakhir. Sehingga dalam pengetesan ini, kami tidak melihat sisi performa, kenyamanan dan fitur tapi berusaha teknologi yang digunakan untuk mendapakan efisiensi terbaiknya.

Untuk metode pengetesan bahan bakar sendiri kami tetap menerapkan sistem full to full dengan menggunakan bahan bakar Pertamax series. Pilihan Pertamax atau Pertamax Plus disesuaikan dengan rekomendasi dari produsen mobil bersangkutan.

Pengendapan bahan bakar menjadi salah satu cara untuk mendapatkan akurasi terbaik dari penggunaan metode full to full. Tak heran bila semua kontestan perlu dikarantina selama semalam agar berada dalam kondisi yang sama saat pengujian di mulai.

Tak hanya itu, pengecekan hal teknis juga dilakukan seperti meme­riksa kondisi filter udara dan memeriksa tekanan angin ban. Bahkan beberapa kendaraan perlu kami turunkan tekanan anginnya lantaran diisi melewati rekomendasi pabrikan. Namun tidak sedikit pula yan perlu di­tambahkan tekanan angin bannya.

Satu yang unik adalah keseragaman dalam menstarter dan mematikan mesin. Jadi setiap kontestan akan mendapat perilaku serupa, kecuali saat pengisian bahan bakar di SPBU Pertamina, mesin boleh dimatikan.

Rute yang telah ditentukan dan dilakukan pada waktu yang bersamaan, membuat setiap kontestan mendapat kondisi lalu lintas yang serupa. Apalagi penggunaan navigasi digunakan untuk mengetahui jarak tempuh, agar faktor pembagi dapat seragam diantara kontestan.

Temuan baru kami pada Liga Irit 2014 adalah kecepatan rata-rata di rute dalam kota. Di rute ini, kecepatan rata-rata hanya mencapai 14,8 km/jam. Artinya, tingkat kema­cetan lalu lintas di Jakarta sudah sangat parah. Pun begitu dengan rute luar kota. Bila beberapa tahun lalu, kecepatan rata-rata bisa mencapai angka 60 km/jam, kini rute luar kota yang ma­yoritas menggunakan jalan bebas hambatan hanya mampu mencatat angka 36,8 km/jam.

Berselisih cukup jauh dengan standar pengetesan kami sehari-hari yang menerapkan kecepatan rata-rata 22-23 km/jam untuk rute dalam kota dan minimum 80 km/jam untuk rute tol. Perbedaan ini bertujuan agar pembaca di daerah tetap mendapat angka konsumsi BBM yang dapat dipertangung jawabkan, alias tidak konsumsi BBM khusus pengguna mobil di Jakarta saja.



Kapasitas mesin yang kecil selalu dibayang-bayangkan dengan penggunaan bahan bakar yang sedikit. Sayangnya hal tersebut tidak selamanya benar.

Seiring berkembang zaman, para produsen mobil pun memikirkan. Bagaimana caranya membuat mobil yang memiliki performa tinggi namun tetap efisien dalam mengolah pembakaran.

Itulah fakta yang saat ini terjadi. Meski Daihatsu Ayla dan Karimun Wagon R yang memiliki kapasitas termungil, bukan berarti ia mampu menjadi yang teririt. Terbukti Toyota Etios yang notabene memiliki kapasitas yang lebih besar 200 cc mampu menjadi yang terbaik.


Sumber : http://www.autobild.co.id/